Si Usil Berjumpa Gempa

 Si Usil Berjumpa Gempa

Oleh Ruhania | XII MIPA 2 SMAN 1 Bambaira | 2024




Orientasi

Sekarang langit di luar sana tidak tersiram cahaya matahari, Langit berubah gelap, malam telah tiba, bahkan adzan Isya telah bergema di langit malam. berbeda dengan langit malam, langit-langit rumah di perkampungan lebih cerah karena lampu listrik.

Sampai di tengah kampung terlihat sebuah rumah tanpa kaca di jendelanya, berdinding batako tanpa plester melapisinya. pintu dari papan usang terbuka lebar. Di dalamnya seorang laki-laki duduk menghisap rokok di sebuah kursi plastik. Perabot perabot sederhana tersusun di dalamnya. satu buah meja kayu, enam buah kursi plastik sama seperti pintu kayu sebelumnya sama sama usang, dengan setengah lantai beralas tikar plastik. Dari kursi plastik ini televisi di ruang tengah dapat terlihat sehingga si orang dewasa itu alias si pamanku menikmati rokoknya sambari menonton televisi. mengapa televisi itu dapat terlihat? tentu saja karena tidak ada sekat di antaranya. tanpa tembok, bahkan selembar kain serupa tirai juga tidak terlihat.

Sederhana saja ruangan rumah ini. tatap lurus dari deretan kursi kita bisa melihat pintu dapur. Oh, sungguh itu pintu dapur. dinding berlubang persegi panjang. apa itu yang disebut pintu? tentu saja itu pintu walau tanpa daun pintu.

Asap kayu bakar menguar dari bagian dapur. lagi-lagi perlu dipertanyakan. makan malam sudah berakhir, tidak ada apapun yang perlu dihidangkan saat ini. Mengapa masih ada kesibukan di ruang itu.

oh apa ada yang bertanya apa yang kulakukan di dapur saat itu?

Gelembung air pecah menimbulkan suara gemeretak rendah dari sebuah panci, air dalam panci kecil itu mulai mendidih. perlahan ku robek plastik  bumbu mie gelas agar tidak menimbulkan kebisingan kecil berakhir besar.

 

Pengungkapan Peristiwa

Setelah menyiram air panas ke gelas mie, aku membawa mie gelas itu di balik selendang menuju ruang tamu. Aku segera duduk di samping pamanku. Dengan gelas  mie di dalam selendang. Aku ternyata lupa membawa penutup gelas. Semua tau aroma mie gelas sangat mudah menyebar. Jika tidak ku tutup semua akan tau aku memasak mie gelas diam-diam. Akhirnya ku tutupi mulut gelas itu dengan tanganku.

Beberapa saat aku masih menunggu mie gelas itu matang dengan telapak tangan di atasnya. Berdiam sambil mewanti-wanti gelas, si benda mati. Rasa hangat di telapak tanganku menjadi pusat perhatianku selama detik-detik itu.

Pamanku baru saja meletakkan gelas kopi di meja, air kopi itu terlihat bergetar. Itu hal biasa tentu saja aku mengabaikannya. Namun, getaran itu terlihat sedikit lebih lama. Aku heran apa yang terjadi. Kuamati kopi pamanku sampai getarannya berhenti. Hal itu tidak butuh waktu lama. Ternyata tidak ada hal yang aneh. Mungkin saja pamanku tidak meletakkan gelasnya dengan perlahan. Itu sebabnya kopi di dalamnya bergetar lebih lama.

Sensasi hangat dari mie gelas kembali menyita perhatianku. Baru saja aku mengabaikan getaran di gelas kopi pamanku, aku melihat air kopi itu bergetar lagi. Apa yang terjadi, pamanku tidak menyentuh gelas itu sama sekali. bahkan sekarang bukan hanya kopi di dalamnya terlihat bergetar, gelas nya juga ikut bergetar sampai itu terlihat terguncang menumpahkan isinya ke meja.

“kenapa ini?”

Pamanku bergumam singkat ketika itu, setelah itu ia kembali menonton acara televisi seperti sebelumnya. Sama seperti pamanku semua orang di rumah kembali melakukan apa yang sebelumnya yang ia lakukan, yang sebelumnya menonton acara tv kembali menonton, yang membaca buku kembali membaca buku, yang menghafal al-qur’an kembali menghafal, yang tidur malah tidak terganggu sama sekali.

Tidak lama kemudian aku terdengar sesegukan, paman menoleh padaku. Belum sempat  pamanku mengucapkan apa pun aku berlari ke kamar, tentu saja dengan gelas mie di balik selendang ku.

 Setelah masuk kamar aku membanting pintu dengan keras.

“Om, kenapa itu Mika?” terdengar dari luar kamar adikku bertanya pada pamanku.

“Tidak tahu. Tiba-tiba menangis”

Dari dalam kamar kudengar semua percakapan mereka. Timbul terus menerus dugaan apa yang menyebabkan aku menangis.

Bukan hanya mereka yang melanjutkan apa yang mereka kerjakan sebelumnya, aku juga melakukannya. Sebelumnya aku berpikir membagi mie gelas ini dengan mereka namun, sekarang aku akan menghabiskannya. Air mataku hanya tertinggal bekas.

Kesedihanku lenyap. Aku kesal mendengar mereka menebak apa yang terjadi padaku. Kakak ku yang sedang membaca buku mengatakan aku menangis karena tidak mendapatkan buku itu lebih dulu darinya, kakakku yang lainnya bukannya melanjutkan menghafal malah sibuk memfitnah, ia mengatakan aku menangis karena hari ini dia tidak memasak hidangan yang ku minta sore ini, satu lagi orang membuat fitnah, si pamanku yang menyebalkan ia mengatakan aku menangis karena tidak diberi ponsel untuk memainkan game.

Aku tidak menangis karena semua itu. Kursi yang kududuki terguncang bahkan semua benda terlihat bergoyang. Saat gelas pamanku terguncang, gelas di tanganku juga ikut terguncang. Itu menyebabkan kuah dari mie gelas mengenai tanganku. Kuahnya masih sangat hangat mungkin saja telapak tanganku akan melepuh karenanya.


Konflik

Sudah berlalu tiga hari sejak aku makan mie gelas sendirian di kamar. Hari ini matahari Kembali tenggelam seperti sebelumnya. Di barat sana warna jingga mulai mendominasi. Hari ini langit terasa lebih cepat gelap dari biasanya.   

“Kakak, boleh pinjam mukenahmu?” aku meminjam mukenah kakak ku untuk shalat di masjid. Aku telah mencuci mukenaku sore ini.

“boleh tapi cepat Kembali nah! Mau juga ku pakai” kakak ku menjawab dengan menjerit. Suaranya beradu dengan minyak goreng yang mendidih di dapur.

Tandas sudah mukenah itu aku gunakan. Aku meninggalkan kamar menuju ruang tamu. Lagi-lagi benda-benda berderit sama seperti gelas kopi tiga hari yang lalu. Kali ini lemari yang tingginya dua kali lipat dariku juga berderit. Semua perabotan rumah semakin berderit kencang. Semuanya terguncang hebat.  Kaki ku kaku, aku tidak bisa bergerak apa semua ini. Aku hanya bisa menyaksikan. Buku-buku berjatuhan dari raknya, lemari yang tingginya dua kali lipat dariku juga jatuh cermin yang menempel pada lemari itu pecah berhamburan di lantai. Kakak ku berlari dari arah dapur ke arahku. Ia meraih tanganku mencoba membawaku keluar dari rumah.


Komplikasi

Aku ingat Ketika kakak ku mencoba membawaku keluar dari rumah kami tiba di depan pintu. Lenganku tergenggam erat jemari berlumur tepung milik kakak ku. Ketika itu juga kaki ku melemah aku tersungkur ke lantai dengan tangan menggantung ke tangan kakakku. Salah satu dinding rumahku sudah tidak mampu menahan guncangan itu. Beberapa bagian runtuh menimpa kepalaku. Entah apa yang terjadi setelahnya. Apa kakakku juga ikut tertimpa dinding. Aku tidak tahu seluruhnya sudah terlihat gelap.

 

Resolusi 

Kubuka kelopak mataku perlahan, langit-langit terlihat gelap. Kaku saja mataku menatap ke atas. Beberapa saat kemudian aku sadar yang di atas sana adalah terpal dan aku bukan terbaring di rumah seperti biasanya.

Kepala ku sulit digerakkan, aku mengarahkan mataku ke samping melihat apa yang ada di sana. Owh ternyata kakakku ada tepat di samping kiriku.

Kakak menyadari aku siuman, ia mulai mengomel seperti biasa. entah apa yang ia pikirkan aku baru saja siuman ia malah mengomel. lantas aku kesal dibuatnya. aku mengerang mengagetkan orang disekitarku. mereka segera mendekat, cemas  menanyakan apakah aku masih kesakitan dan segala macamnya. 

“Mau saya makan mie gelas” tanpa rasa bersalah aku tidak menyadari membuat orang-orang cemas berlebihan. Setenang itu aku menjawab setiap seluruh pertanyaan mereka dengan satu kalimat.


Koda

Sekitar seperti itulah yang tertulis di buku harianku. Tapi tidak dengan tanggal 28 September 2018 ketika gempa bumi dan tsunami terjadi di Sulawesi.  Aku baru bisa menulis semua itu dua bulan setelahnya, saat aku telah pulih.

 


Posting Komentar untuk " Si Usil Berjumpa Gempa"