Teks cerita sejarah:
"Tragedi Tsunami Palu dan Kisah Yojo-Akil"
Oleh Nursakinah | Kelas XII MIPA 1 SMAN 1 Bambaira | 2024
“Saat peringatan tsunami diumumkan, banyak warga yang memilih untuk tidak mengevakuasi diri,” ujar seorang petugas, suaranya rendah seolah menyimpan beban berat.
“Ketika kami sedang bersiap merilis imbauan agar masyarakat segera menjauhi kawasan pantai, BMKG mencabut peringatan itu hanya 30 menit kemudian, tepat pukul 17.37 WIB. Padahal, gelombang tsunami justru benar-benar terjadi pada pukul 17.22 WIB, sebelum pencabutan peringatan. Berdasarkan data dari BNPB, tinggi gelombang tsunami mencapai enam meter di beberapa titik,” jelas Kepala Pusat BNPB itu dalam wawancara yang sarat duka, mengisahkan kronologi musibah yang mengguncang Sulawesi Tengah, khususnya Palu, pada Jumat, 28 September 2018.
Di tengah kerumunan pengungsi yang memadati tempat pengungsian sementara, tiba-tiba suara seorang pria tua memecah keheningan, suaranya terdengar parau dan penuh amarah. Teriakan itu datang penuh kesakitan, diiringi dengan linangan air mata yang tak terbendung.
"Sudah kubilang… sudah kubilang semua ini akibat kalian! Tapi… kenapa kami yang tak bersalah harus menanggung malapetaka ini?” suaranya bergetar, penuh keputus asaan. “Cucuku… Yojo… Akil…”
Suara tangisan pilu kakek itu terekam kamera, membawa pesan mendalam tentang keperihan setiap korban bencana. Di sana, wajah-wajah kelelahan menyimpan cerita kelam mereka masing-masing, mengandung harapan yang tertahan agar tidak ada lagi bencana yang merenggut segalanya dari hidup mereka. Wartawan yang menyaksikan hanya mampu terdiam, turut merasakan luka yang begitu dalam; bukan sekadar kehilangan harta benda, tetapi juga orang-orang tercinta yang hilang dalam sekejap.
Dua hari sebelumnya, tak seorang pun menyangka bahwa ketenangan kota Palu akan berubah menjadi tragedi. Penduduk Palu sedang bersiap merayakan Festival Pesona Palu Nomoni, perayaan tahunan di Pantai Talise yang mempertemukan seluruh masyarakat untuk merayakan budaya suku Kaili, suku asli di Palu. Dalam festival ini, tradisi dan kesenian suku Kaili ditampilkan, seperti musik, tari-tarian tradisional, ritual adat, hingga kuliner khas. Festival ini menjadi kebanggaan masyarakat akan budaya mereka, dan menjadi waktu untuk berkumpul dan bergembira.
Di sebuah sudut kota, tak jauh dari pusat festival, Yojo dan Akil sedang berjalan bersama membawa galon kosong. Kakek Yojo, yang sudah terlalu lelah, memintanya untuk mengisi galon air di tempat pengisian terdekat. Akil, sahabat setianya, dengan senang hati ikut membantu, mengingat Yojo tak bisa melihat.
"Akil, suara apa itu?" tanya Yojo, tersenyum membayangkan suasana yang dideskripsikan Akil tentang festival besar yang berlangsung di pantai.
“Orang-orang lagi main kembang api dan menari di pantai, Yojo. Banyak alat musik tradisional seperti gimba dan lalove yang dimainkan. Seru sekali!” jawab Akil, suaranya penuh antusias, sambil menggenggam erat tangan Yojo. Setiap detail dijelaskan Akil dengan kata-kata yang membuat Yojo mampu menggambarkan suasana festival itu dalam imajinasinya.
Namun, tiba-tiba suara merdu itu berubah menjadi pekikan yang mencekam. Akil dan Yojo merasakan getaran aneh yang mulai terasa di tanah di bawah kaki mereka. Awalnya hanya seperti bisikan gemetar halus, namun dalam hitungan detik, getaran itu tumbuh menjadi lindu yang menggetarkan bumi dengan keras, menggoyangkan segalanya di sekitar mereka. Batu-batu kecil di jalanan bergetar, bergeser, lalu meloncat-loncat tak terkendali.
"Akil, kenapa tanahnya bergetar?" tanya Yojo, suaranya dipenuhi kebingungan dan kecemasan. Akil menggenggam tangan Yojo semakin erat.
Belum sempat Akil menjawab, getaran itu tiba-tiba semakin kuat, menggulung seperti raungan gelap yang datang dari dalam perut bumi. Bangunan di sekitar mereka mulai berderak, memuntahkan debu dan retakan. Yojo bisa mendengar bunyi dinding yang runtuh di kejauhan, menambah ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Dunia yang ia kenal kini terasa seperti hendak terbalik; segala yang biasanya diam kini bergerak, dan segala yang kokoh kini rapuh.
Akil dan Yojo jatuh terduduk, terhuyung tak berdaya di tengah jalanan yang bergetar seperti hendak menghancurkan mereka. Dengan tangan gemetar, Akil menarik Yojo, berusaha melindungi sahabatnya itu dari apa pun yang akan datang, meskipun ia sendiri tak yakin apa yang bisa ia lakukan.
Di dalam hati mereka, terlintas kekhawatiran yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun sesuatu yang lebih mengerikan datang di kejauhan—ombak besar, gelombang hitam pekat yang menjulang setinggi bangunan, mendekat ke arah pantai dengan kecepatan yang luar biasa.
"Yojo… itu… itu ombak besar! Kita harus lari sekarang!” teriak Akil, suaranya serak karena ketakutan. Melupakan galon yang saat ini bukan lagi prioritas. Mereka pun berlari sekuat tenaga, namun kekuatan arus yang datang dari belakang terlalu cepat dan kuat.
Hantaman gelombang tsunami itu begitu dahsyat, membawa mereka ke dalam pusaran air yang tak terkendali. Yojo hanya bisa merasakan dinginnya air yang menghantam tubuhnya, disertai pecahan puing-puing yang melukai kulitnya. Akil berusaha meraih tangan Yojo, melindungi sahabatnya itu meski air terus menyeret mereka tanpa ampun.
“Akil… aku… aku takut…” bisik Yojo dengan napas yang semakin lemah, sementara mereka terus diombang-ambingkan tanpa daya di tengah kegelapan yang penuh dengan amukan gelombang.
Dalam kesunyian yang mengerikan itu, Yojo teringat akan senyuman Akil, sahabatnya yang selalu membuatnya merasa aman. Namun kali ini, air membawa mereka pergi, semakin dalam dan semakin jauh dari kehidupan yang mereka kenal.
Ketika fajar tiba, kota Palu berubah menjadi puing-puing yang hening, tak lagi ada suara tawa atau sorak sorai. Gelombang setinggi enam meter itu telah menelan segalanya—rumah, keluarga, dan kenangan yang tak akan pernah kembali. Hanya lautan yang tetap mengalun, menyimpan kisah Yojo dan Akil serta ribuan orang lainnya yang hilang dalam ketakberdayaan di bawah langit yang kembali tenang.

Posting Komentar untuk " "Tragedi Tsunami Palu dan Kisah Yojo-Akil""